Bersikap Adil pada si Kecil
Orangtua mesti bersikap adil di depan anak-anaknya. Jika tidak, di antara anak akan timbul perselisihan. Bahkan, bisa mengakibatkan rasa depresi ketika dia beranjak dewasa.
Memang tidak mudah menjadi orangtua dan berlaku adil kepada semua anak-anak kita. Orangtua tentu mesti mengerti bahwa jika sikap pilih kasih itu terjadi, antara kakak dan adik tidak akan lagi bersikap harmonis, tetapi akan muncul percekcokan dan perselisihan yang akhirnya mengarah pada kebencian sesama anggota keluarga.
Karena itu, tindakan sekecil apa pun yang dilakukan orangtua harus benar-benar dipertimbangkan bila berhadapan dengan buah hati kita, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Apalagi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ibu yang pilih kasih atau sikap favoritisme terhadap salah satu anaknya akan meningkatkan potensi depresi terhadap anak-anaknya yang lain saat dewasa.
Peneliti mewawancarai 275 ibu di daerah Boston, Amerika Serikat yang berusia sekitar 60–70 yang setidaknya memiliki dua anak dewasa yang masih hidup, dan 671 anak di antaranya adalah perempuan. Peneliti mengklaim mereka adalah tim pertama yang berhasil menunjukkan adanya efek berbahaya jika ibu pilih kasih kepada anak saat mereka dewasa.
Para peneliti juga mengamati sekitar 671 orang keturunan mereka, yang rata-rata berusia 43 tahun. Untuk mengukur sikap pilih kasih, para peneliti mengajukan tiga pertanyaan kepada para ibu. Pertama, anak ke berapa dalam keluarga yang Anda rasakan memiliki kedekatan yang paling emosional? Kedua, jika Anda jatuh sakit atau cacat, dan membutuhkan bantuan sehari-hari, maka anak mana yang paling mungkin untuk membantu Anda?
Dan ketiga, dengan anak yang ke berapa Anda paling sering memiliki perbedaan pendapat atau berargumen? Sebagian besar jawaban ibu-ibu tersebut berbeda. Sekitar 70 persen ibu menyebutkan dengan anak mana dia merasa paling dekat, 79 persen mengatakan nama anak yang dinilai bisa menjadi pengasuhnya, dan 73 persen anak disebutkan paling sering berargumen atau berselisih paham.
Sementara itu, hasil dari penelitian pada anaknya yaitu anak yang sudah dewasa cenderung percaya bahwa ibu mereka memiliki anak yang menjadi favorit seperti dalam kasus yang sedang dibahas. Hanya 15 persen anak-anak mengatakan tidak ada pilih kasih, tetapi 30 persen dari ibu melaporkan hal yang sama.
Persepsi favoritisme memiliki dampak yang lebih pada melimpahnya kasih sayang yang sebenarnya. Skor terkait depresi terbukti lebih tinggi untuk anak-anak yang percaya bahwa ibu mereka memiliki kedekatan lebih dengan saudaranya. Para anak yang ibunya melaporkan konflik yang lebih besar dengan saudara kandungnya, juga melaporkan tingginya tingkat depresi.
Namun, para ilmuwan tidak menemukan kaitan antara depresi dan diferensiasi sebenarnya dari seorang ibu di antara anak-anaknya, terkait konflik atau kedekatan emosional. Temuan tersebut baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family edisi April 2010, yang akhirnya berujung pada harapan terhadap dibahasnya terapi baru penanganan masalah keluarga dan mencegah konflik yang timbul akibat perilaku pilih kasih.
“Kita memiliki norma kuat dalam masyarakat bahwa orangtua harus memperlakukan anak-anak yang sama. Jadi, sikap pilih kasih adalah topik yang tabu untuk dibicarakan,” kata penulis studi Karl Pillmer, seorang gerontolog dari Cornell University, Amerika Serikat.
“Jika konselor dan paramedis dapat membantu orangtua dan anak-anak yang sudah dewasa bisa membawa isu ini terbuka untuk didiskusikan, mungkin akan membantu mencegah timbulnya konflik keluarga mereka lebih lanjut,” lanjut Pillmer, seperti dikutip healthday.com.
Menurut Pillmer, sikap favoritisme yang dilakukan orangtua memperjelas dampak kesehatan mental anak. Favoritisme ibu berpengaruh pada perkembangan psikologis anak, bahkan setelah mereka tumbuh dewasa dan memulai keluarga sendiri. “Tidak peduli apakah Anda termasuk anak emas atau tidak misalnya, persepsi perlakuan tidak adil telah merusak efek untuk semua saudara Anda,” terangnya.
“Menariknya, jadi anak favorit memiliki beberapa kelemahan yang serius. Itu berdasarkan temuan dalam,” ujar Pillemer.
“Anak yang disukai orangtua bisa jadi merasa bersalah, dan dia dapat mengalami hubungan negatif dengan saudara lain, yang mungkin kesal dan sebal dengan dirinya. Anak yang difavoritkan biasanya mendapatkan perawatan lebih lanjut dan pendampingan orang tua, terutama pengobatan yang mengarah ke stres,” paparnya.
Terkait anak ke berapa dan jenis anak bagaimana yang menjadi favorit para ibu, Pillemer belum memastikan dan akan terus mencari tahu. “Namun, orangtua cenderung memilih anak tertua atau termuda (sebagai lawan dari tengah). Mereka biasanya tertarik ke arah anak-anak yang lebih mirip dengan mereka dalam karakteristik pribadi dan nilai-nilai,” tukasnya.
Pillemer mengatakan bahwa kualitas hubungan antara anak dan orangtua dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap psikologis mereka. “Selain itu, hubungan orang tua dan anak akan berlanjut setelah anak-anak meninggalkan rumah. Karena terus berlanjut, orang tua tidak boleh pilih kasih,” tuturnya.
Anak-anak tetaplah anak-anak, dan bahkan setelah mereka menjelma menjadi orang dewasa. Setiap saudara akan membandingkan diri mereka satu sama lain, dan mereka membandingkan hubungan mereka dengan ibunya. Adanya rasa pilih kasih juga telah terbukti memiliki pengaruh buruk pada kualitas hubungan saudara kandung setelah mereka dewasa kelak.
Orangtua, terang Pillemer, seharusnya tidak menjalankan sikap pilih kasih untuk kepentingan dirinya sendiri. “Sebagian besar orangtua merasa khawatir dia menunjukkan pilih kasih (jika mereka menyadari hal itu). Idealnya, orangtua harus menghindari pernyataan jelas dengan hanya memberikan kasih sayang dan perhatian kepada satu anak, atau membandingkan satu anak dengan yang lain dalam sebuah diskusi keluarga,” tandasnya.
okezone.com